Navigation Menu
Kota Bau Bau
May 102013

Pada awalnya, Bau-Bau merupakan pusat Kerajaan Buton (Wolio) yang berdiri pada awal abad ke-15 (1401–1499). Buton mulai dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah Nagarakretagama karya Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Keresian atau tempat tinggal para resi dimana terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air dengan rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh kelompok Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo dan Sijawangkati yang oleh sumber lisan di Buton mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke-13.

Kejayaan masa Kerajaan Buton (Wolio) sampai Kesultanan Buton sejak berdiri pada tahun 1332 sampai dengan 1960 telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang gemilang. Sampai saat ini masih dapat disaksikan berupa peninggalan sejarah, budaya seperti naskah kuno yg tersimapan pada garis keturunan Laode dan Waode di pulau buton, sedangkan naskah lain masih banyak yg dibawa ke belanda oleh bangsa belanda sendiri pada saat penjajahan mereka dan arkeologi seperti kuburan raja dan sultan,benteng pertahanan keraton,pintu gerbang yg disebut lawa,meriam tua dan masih banyak lagi yg lainnya. Saat ini wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa kabupaten dan kota, yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara dan Kota Bau-Bau.

More Information»
Adu Kuda Muna
May 102013

Adu Kuda Muna merupakan tradisi kuno rakyat  Muna , Kapogiraha adhara atau aduan kuda, salah satunya. Tradisi yang  menggambarkan betapa pentingnya kuda dalam kehidupan orang Muna. Mungkin karena tradisi inilah masyarakat luas mengenal Pulau Muna sebagai Pulau Kuda.  Aduan kuda menjadi kegiatan rutin setiap HUT Kemerdekaan RI dan Hari Raya Id Fitri dan Id Adha. kecuali di Desa Lathugo, Kecamatan Lawa, aduan kuda ini diselenggarakan tiap bulan.
Makna Aduan kuda ini adalah mencerminkan kekuatan dan keuletan dalam melaksanakan tugas, kewajiban yang diamanatkan sekalipun dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. dan pada Jaman Kerajaan di Muna , adu kuda ini selau dipertontongkan kepada tamu tamu kerajaan. Jarak ke lokasi ini 20 km dari kota Raha.

More Information»
Wisata Wakatobi
May 102013

Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Pembentukan pulau-pulau di kepulauan Wakatobi akibat adanya proses geologi berupa sesar geser, sesar naik maupun sesar turun dan lipatan yang tidak dapat dipisahkan dari bekerjanya gaya tektonik yang berlangsung sejak jaman dulu hingga sekarang. Secara keseluruhan kepulauan ini terdiri dari 39 pulau, 3 gosong dan 5 atol. Dari proses pembentukannya, atol yang berada di sekitar kepulauan Wakatobi berbeda dengan atol daerah lain. Atol yang berada di kepulauan ini terbentuk oleh adanya penenggelaman dari lempeng dasar. Terbentuknya atol dimulai dari adanya kemunculan beberapa pulau yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan karang yang mengelilingi pulau. Terumbu karang yang ada di sekeliling pulau terus tumbuh ke atas sehingga terbentuk atol seperti beberapa atol yang terlihat sekarang, antara lain Atol Kaledupa, Atol Kapota, Atol Tomia.

Wakatobi adalah keindahan tak tetandingi. Baik yang ada di permukaan maupun di bawah laut. Kepulauan Wakatobi memiliki 25 kelompok terumbu karang yang sehat dan indah. Tersebar di sepanjang daerah tersebut. Terdapat 590 jenis ikan yang berkembang biak di sana.

Begitu para wisatawan menyelam, terumbu karang yang lebat dan luas yang segera dapat dilihat. Ditingkahi ikan berwarna-warni, pemandangan ini sungguh menakjubkan. Bahkan, dasar laut dapat dilihat meskipun Anda tidak menyelam karena air laut begitu jernih.

Umumnya, wisatawan yang datang ke Wakatobi melakukan beberapa kegiatan seperti menyelam, snorkeling, berenang, berkemah, dan wisata budaya. Saat ini, terdapat 29 tempat menyelam yang ditawarkan bagi wisatawan di sekitar Pulau Kaledupa, Pulau Binongko, dan Pulau Tomia.

Tetapi banyak penyelam mengatakan, yang paling spektakuler adalah situs penyelaman Mari Mabuk. Situs ini terletak di Pulau Tomia. Memiliki banyak jenis terumbu karang indah dengan topografi bawah laut berbentuk lereng, datar, drop-off, atol, dan gua bawah laut. Soal kekayaan biota laut, jangan diragukan.

Wakatobi identik dengan dasar laut yang indah. Tetapi daerah yang disebut Kepulauan Tukang Besi itu juga menawarkan permukaan alam yang eksotis dan budaya yang menarik. Pantai yang indah, pesta- pesta tradisional, lokasi berkemah, ada juga peninggalan sejarah.

Taman Laut Nasional Wakatobi adalah taman laut terbesar kedua di Indonesia setelah Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih di Provinsi Papua. Menurut peta konservasi terumbu karang, Wakatobi terletak di daerah yang disebut Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), yang mencakup Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia.

Kabupaten ini memiliki 37 pulau. Hanya enam yang dihuni manusia dan hanya 11 pulau yang memiliki nama. Sisanya, 31 pulau masih belum bernama dan belum dikelola. Di antara enam pulau yang berpenghuni, empat adalah pulau utama, yaitu Pulau Wangiwangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko. Wakatobi adalah akronim nama empat pulau tersebut.

Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.

Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.

Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis); juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Wakatobi memiliki beberapa daya tarik di permukaan. Pulau Wangiwangi memiliki beberapa mata air yang muncul di tengah-tengah bukit kapur, benteng, dan juga mesjid tua sebagai warisan Kerajaan Buton. Sedangkan di Pulau Tomia dan Kalidupa dan ada pemandangan pantai yang sangat indah dan tarian tradisional.

More Information»

Bandar Udara Haluoleo (sebelumnya bernama Bandara Wolter Monginsidi) merupakan salah satu bandara yang terletak di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia dengan kode IATA: KDI, dan kode ICAO: WAWW.

Wakil Mentri Perhubungan RI, Bambang Susantono meresmikan perubahan nama Bandar Udara Wolter Monginsidi Kendari menjadi Bandar Udara Haluoleo.

Setelah tiga tahun lalu Bandar udara Wolter Monginsidi Kendari berpindah terminal dari terminal lama pangkalan TNI Angkatan Udara ke terminal baru untuk penerbangan sipil, nama Bandara Wolter Monginsidi berubah menjadi Bandar Udara Haluoleo.

Perubahan nama Bandara tersebut, diresmikan langsung Wakil Mentri Perhubungan RI, Bambang Susantono, Phd disaksikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, SE serta beberapa pejabat daerah dan unsur Muspida.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono mengatakan, penggantian nama bandara dari Wolter Monginsidi menjadi Haluoleo Kendari diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanan pada pengguna jasa transportasi udara.

Disamping itu, Bandara Haluoleo tersebut merupakan bandara enklas sipil dan penggunaannya dilakukan bersama dengan jajaran TNI-AU, kedepannya pemerintah akan melakukan amandemen Notam sebagai langkah sosialisasi ke pihak terkait untuk mencegah terjadinya Human Eror kepada aktifitas penerbangan.

Wakil Menteri Perhubungan RI, Bambang Susantono juga mengharapkan kepada operator Bandar Udara agar mampu memelihara citra Bandara Haluoleo dan kepada perusahaan penerbangan yang melayani kegiatan operasional untuk mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan dana penambahan landasan pacu seluas 250 meter dari 2.250 meter yang ada saat ini, sehingga kedepannya Bandar udara Haluoleo menjadi bandara yang bertaraf internasional dan juga menjadi debarkasi haji.

Saat ini, Bandara Haluoleo melayani 6 maskapai penerbangan rute Kendari-Makassar-Jakarta yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Batavia Air, Lion Air, Sriwijaya Air dan Wings Air, ditambah dua maskapai penerbangan local, rute Kendari- Wakatobi dan Bau-bau yaitu Susi Air dan Ekspres Air

More Information»
All Listing Types All Locations Any Rating

Listing Results